ULUMUL QURAN "ILMU FAWATIHUS SUWAR" (PEMBUKA SURAH-SURAH)


ULUMUL QURAN
ILMU FAWATIHUS SUWAR
Anang Bustami

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belajar Al-Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana tempo dulu, termasuk para sahabat pada zaman Rasulullah saw. Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimanan historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemu’jizatan penafsiran serta telaah kepada huruf-hurufnya.
Kondisi semacam itu bukan hanya merupakan  tanggung jawab seorang Muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya. Tetapi sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan kepada studi yang bersifat ilmiah yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Kalangan sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al-Quran, dengan motivasi dan latar belakang kultural maupun intelektual yang berbeda-beda.
Ilmu fawatihis suwar adalah ilmu cabang ulumul qur’an yang khusus membahas pembukaan surah-surah al-qur’an. Ilmu ini penting sekali untuk dipelajari supaya orang akan bisa mengetahui rahasia/hikmah Allah Swt di dalam pembukaan surah-surah kitab al-qur’an.
Dalam catatan As-Suyuthi, ada kurang lebih 20 pendapat yang berkaitan dengan persoalan ini. Dilafalkan secara terpisah sebanyak huruf yang berdiri sendiri. Huruf Al-muqaththa‘ah (huruf yang terpotong potong ) di sebut fawatih suwar (pembukaan surat) menurut as-suyuthi tergolong dalam ayat mutasyabihah. Itulah sebabnya, banyak telaah tafsir untuk mengungkapkan rahasia yang terkandung di dalamny     a.
Di antara ulama yang mengarang ilmu ini adalah Abdul adhim bin abdul wahid, yang terkenal dengan sebutan ibnu ishba’. Beliau menulis kitab Al-Khawaathirus syawabih fi Asraaril fawaatih.
Al-Quran sebagaimana diketahui terdiri dari 114 surat, yang di awali dengan beberapa macam pembukaan (Fawatih Al-Suwar), di antara macam pembuka surat yang tetap aktual pembahasannya hingga sekarang ini huruf muqatha’ah. Menurut Watt, huruf-huruf yang terdiri dari huruf-huruf alphabet (hijaiyah) ini, selain mandiri juga mengadung banyak misterius, karena sampai saat ini belum ada pendapat yang dapat menjelaskan masalah itu secara memuaskan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Fawatih As-Suwar?
2.      Bagaimana macam-macam Fawatih As-Suwar?
3.  Bagaimana pendapat para Ulama tentang Fawatih As-Suwar?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Fawatih as-Suwar
Menurut bahasa fawatih adalah jamak dari kata fatihah, yang berarti pembukaan atau permulaan atau awalan. Sedangkan kata as-suwar adalah jamak dari kata as-surah yaitu sekumpulan ayat-ayat Al-qur’an yang mempunyai awalan dan akhiran.
Dari segi makna bahasa, fawatih as-suwar berarti pembukaan-pembukaan surah karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks setiap surah. Bila sebuah surah dimulai oleh huruf-huruf hijaiyah, huruf itu bisa dinamakan ahruf muqatta’ah (huruf huruf yang terpisah) karenaposisi huruf tersebut cenderung “menyendiri”, tidak bergabung untuk membentuk sebuah kalimat serta kebahasaan. Namun, segi pembacaannya tidak bebeda dari lafaz yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Ibnu Abi al-Asba’ menulis sebuah kitab yang membahas tentang bab “pembuka surah-sutah” ini secara lebih mendalam, yaitu kitab al-khaqatir as-sawanih fi asrar al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan pembukaan surah yang ada dalam Al-qur’an. Pertama, pujian terhadap Allah yang dinisbatkan pada sifat-sifat kesempurnaan tuhan. Kedua, penggunaan huruf-huruf hijaiyah yang terdapat di 29 surah. Ketiga, penggunaan kata seru atau sapaan (al-hurufun nida’) yang terdapat di 10 surah dengan rincian : 5 seruan di tujukan kepada Rosul secara khusus, dan 5 seruan lainnya ditujukan kepada umat. Keempat, berbentuk sumpah (al-aqsam) yang terdapar di 15 surah.
Fawatihus Suwar adalah beberapa pembukaan dari surah-surah Al-qur’an atau beberapa macam awalan dari surah-surah Al-qur’an. Sebab, seluruh surah al-qur’an yang berjumlah 114 buah surah itu dibuka dengan sepuluh macam pembukaan, tidak ada satu surahpun yang keluar dari sepuluh macam pembukaan itu. Dan tiap-tiap macam pembukaan itu mempunyai rahasia/hikmah sendiri-sendiri, hingga perlu sekali untuk dipelajari.
Istilah fawatihus suwar ini sering dijumbuhkan orang dengan al-huruful muqaththa’ah (huruf terputus-putus yang terdapat di permulaan surah-surah al-qur’an) seperti Dr. Shubhi Ash-Shahih dalam kitabnya Mabahits fi’Ulumil Qur’an. Karena itu, perlu ditegaskan bahwa fawatihus suwar itu berbeda dengan huruful muqaththa’ah yang hanya mempunyai salah satu macam dari fawatihus suwar yang ada sepuluh macam yang hanya menjadi pembahasan dari 29 surah dari 114 surah-surah Al-qur’an.[1]

B. Pendapat Ulama tentang Fawatih as-Suwar
Dengan penjelasan ini menunjukkan bahwa fawatih as-suwar (pembuka-pembuka surah) ada 29 macam yang terdiri dari 13 bentuk. Huruf yang paling banyak terdapat dalam pembuka surahialah alif dan lam, kemudian mim, kemudian ha, ra, sin, tha, shad, kemudian ha dan ya, ‘ain, qaf dan akhirnya Kaf dan nun.
Huruf-huruf yang di pakai dalam pembukaan surah dengan tidak berulang-ulang ada 14, atau separuh huruf Hijaiyah. Karenanya para Mufassir berkata : “disebut fatihah-fatihah surat dalam Al-Qur’an adalah untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf hijaiyah yang terkenal yang sebagiannya terdiri dari satu satu huruf. Sedangkan sebagian yang lain terdiri dari satu huruf agar nyata kepada bangsa Arab bahwa Al-Qur’an diturunkan denganmenggunakan huruf-huruf yang mereka kenal. Ini merupakan bukti kelemahan mereka dalam mendatangkan susunan kata yang menyerupai Al-Qur’an”.
Hal ini telah dijelaskansecara panjang lebar oleh Az-Zamakhsyary dan Al-Baidhawy. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H.) dan Al-Hafiz Al-Mizzi (wafat tahun 742 H.)
Kesimpulan uraian-uraian beliau ialah bahwa Al-Qur’an di turunkan dalam bahasa Arab, sedangkan bangsa Arab tidak dapat menandingi Al-Qur’an yang diturunkan dalambahasa mereka sendiri. Hal ini menunjukkan kepada kelemahan mereka. Andaikan Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa yang lain dari bahasa Arab sudahwajar mereka tidak dapat menandinginya.
Golongan ini memperhatiakan lebih jauh bahwa Tahaddi Al-Qur’an kepada bangsa Arab yaitu meminta agar mereka mendatangkan yang seperti Al-Qur’an, menambah jelas keadaannya danmenghasilkan sesuatu kekuatan dengan suatu kenyataan yang aneh. Kita takjub memperhatikan orang-orang arab itu mempelajari Al-Qur’an dan memberikan perhatiaan mereka kepadanya.
Al-Qur’an tidak saja melengkapi fawatih yang berbagai macam rupa yang jumlah hurufnya sebanyak huruf hijaiyah dan yang susunannya terdiri dari separuh huruf hijaiyah, bahkan meliputi dari setiap jenis separohnya.
Tidak pernah tergores dalam fikiran ulama salaf melainkan bahwa fawatih as-suwar telah tersusun semenjak zaman Azali sedemikian rupa guna melengkapi segala yang melemahkan manusia untuk mendatangkan yang seperti Al-Qur’an.[2]
Oleh karena iktikad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya maka banyak orang yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu, huruf-huruf itu dipandang masuk ke golongan Mutasyabihah yang hanya Allah aendiri yang mengetahui tafsirnya. Asy-Sya’by menegaskan bahwa huruf-huruf tersebut adalah rahasia dari Al-Qur’an.
Ali bin Abi Thalib berkata : “sesungguhnya bagi tiap-tiap kitab ada saripatinya. Saripati Al-Qur’an adalah huruf-huruf Hijaiyah”
Abu bakkar As-Shiddiq pernah berkata : “di tiap-tiap kitab ada rahasianya. Rahasianya dalam ialah permulaan-permulaan surat”
Ahli-ahli Hadis menukilkan dari aiabnu Mas’ud dan Khulafa’ Rasyidin bahwa beliau-beliau itu berkata:
ان هذه الحرف علم مستوروسرمحخوب استاثره ا لله به
“sesungguhnya huruf-huruf itu adalah ilmu yang tersembunyi dan rahasia yang terdinding, yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya”
Al-juwaini dan al-khuwaiby mengatakan bahwa kalimat-kalimat fawatih al suwar itu merupakan adat tambih bagi Nabi Muhammad saw. Boleh jadi, dalam suatu waktu nabi Muhammad dalam keadaan sibuk, Allah memerintahkan kepada Jibril a.s. supaya surat-surat tersebut dimulai dengan huruf Al-muqatthaah ha mim, alif lam mim, dan yang sejenisnya, agar Nabi Muhammad saw lebih terfokus.
Al-razy menantang keras pendapat ini demikian pula halnya dengan Muhammad Rasyid Ridla dalam tafsirnya Al-manar sangat mencela pendapat tersebut. Beliau membenarkan bahwa fawatih al suwar itu serbagai adat tambih. Akan tetapi, tambih tersebut bukan ditujukan kepada Nabi saw., karena Rasulullah selalu dalam keadaan siap siaga dan selalu dalam keadaan menanti-nanti kedatangan wahyu (al-Shahih, 1977: 235). Jadi, tambih tersebut semata-mata hanya ditujukan kepada kaum Musyrikin Mekkah dan kepada Ahli Kitab di Madinah. Beliau mengambil alasan bahwa orang-orang kafir pada waktu itu satu sama lain menganjurkan agar tidak mendengar Al-Qur’an disaat Nabi Muhammad saw. Membacakannya, sebagai mana yang dinyatakan dalam firman Allah dalam surah Fushilat (41) ayat 26. Yang artinya : “dan orang-orang kafir berkata,’janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini, dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)”
Allah berkehendak untuk menarik perhatian mereka dengan mengaewali sebagian surat-suratnya denganhuruf-huruf yang terpisah (huruf al muqaththa’ah).[3]
C.Macam-macam fawatih al-suwar
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang pembukaan surat Alquran, diantaranya sebagai yang dilakukan al-Qasthalani. Ia mengiventarisir Fawatih al-Suwar menjadi sepuluh macam. Sementara Ibn Abi al-Isba dalam kitabnya al-Khaqatir al-Sawanih fi Asrar Fawatih, hanya menyebutkan lima saja.
a. Pembukan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bi al-tsana).
Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu:
1) Menetapkan sifat-sifat terpuji kepada Allah (al-itsbat shifat al-madhiy) dengan menggunakan salah satu lafal berikut.
a) Memakai lafal hamdalah, yakni dibuka dengan (الحمد لله), yang terdapat dalam 5 surat.
b) Memakai lafal (تبارك), yang terdapat dalam 2 surat.
2) Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih ‘an sifat naqshim) dengan menggunakan lafal tasbih, (يسبح\سبح\سبح\سبحن) sebagai yang terdapat dalam 7 surat.
Berdasarkan uraian di atas, ternyata masing-masing surat tersebut menetapkan sifat-sifat yang negatif. Surat-sufat yang diawali dengan pujian ini memiliki tasbih itu merupakan monopoli Allah. Dalam hal ini, tasbih dimulai dengan mashdar dan selanjutnya diikuti dengan fi’il. Ini semua dimaksudkan agar mencakup seluruh tasbih, sekaligus menunjukkan betapa ajaibnya Al-Quran itu.
b. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Istiftah bi al-huruf al-muqatha’ah).
Pembukan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni (ا\ي\هـ\ن\م\ل\ك\ق\ع\ك\ص\س\ر\ح)
Penggunan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surat-surat Alquran disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari kelompok berikut:
1) Kelompok sederhana, terdiri dari satu huruf, terdapat dalam 3 surat, yakni (ص) (QS. Shad); (ق) (QS. Qaf); dan (ن) (QS. Nun).
2) Kelompok yang terdiri dari dua huruf, tedapat dalam 3 surat, yakni (حم) (QS. Al-Mu’min; QS. Al-Sajdah; QS. Al-Zukhruf, QS. Al-Dukhan; QS. Al-Jatsiyah; dan QS.Al-Ahkaf; (طه) (QS. Thaha); (طس) (QS. Al-Naml); dan (يس) (QS. Yasin).
3) Kelompok yang terdiri dari tiga huruf, yakni (الم) QS. Al-Bqarah, QS. Ali Imran, QS. Al-Ankabut, QS. Al-Rum, QS. Luqman dan QS. Al-Sajdah); (الر) (QS. Yunus, QS. Hud, QS. Ibrahim, QS. Yusuf, dan QS. Al-Hijr, dan (طسم) (QS. Al-Qashash dan QS. Al-Syu’ara).
4) Kelompok yang terdiri dari empat huruf, yakni ( المر ) (QS. Al-Ra’ad) dan (المص) (QS. Al-A’raf).
5) Kelompok yang terdiri dari lima huruf, yakni rangkaian (كهيعص) (QS. Maryam) dan (حم عسق) (QS. Asy-Syura).
c. Pembukaan dengan panggilan (al-istiftah bi al-nida).
Nida (Pembukaan) ini ada tiga macam, yaitu nida’ untuk nabi, nida untuk kaum mukminin dan nida untuk umat manusia.
d. Pembukaan dengan kalimat (jumlah) khabariah (al-istiftah bi al-jumal al-khabariayyah).
Jumlah khabariyyah di dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu:
1) Jumlah ismiyyah
Jumlah ismiyyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu:
(a) (براءة من الله ورسوله) (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan rasul-Nya (QS. Al-Taubah).
(b) (سورة انزلناها وفرضناها) (ini adalah) satu surat yang Kami nuzulkan dan kami wajibkan (QS. Al-Nur).
(c) (تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم) /Kitab Alquran ini dinuzulkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Zumar)
(d) (الذين كفروا زصلوا عن سبيل الله) (orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia), dari jalan Allah), (QS. Muhammad);
(e) (ان فتحنالك فتحا مبينا)  Sunngguh kami telah, memberikan keapdamu kemenangan yang nyata (QS. Al-Fath)
(f) (الرحمان علم القران) /Alah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan, (QS. Al-Rahman)
(g) (الحاقة ماالحاقة) / Kiamat, apakah hari kiamat itu? (QS. Al-Haqqa)
(h) (ان ارسلنانوحا الي قوم) /Sungguh telah mengutus Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh)
(i) (انا انزلنه في ليلة القدر) /Sungguh telah menurunkannya (Alquran) pada malam al-Qadr (QS. Al-Qadr); QS. Al-Qadr;.
(j) (القارعة ما القارعة) /Hari Kiamat, apakah Hari kiamat itu?(QS. Al-Qari’ah)
(k) (انا اعطيناك الكوثر) /Sungguh kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (QS. Al-Kawtsar).
2) Jumlah fi’liyah
Jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat-surat Alquran terdapat dalam 12 surat, yaitu
(a) (يسئلونك عن الانفال) /Mereka bertanya kepadamu tentang pendistribusian harta rampasan perang (QS. Al-Anfal)
(b) (اتي امرالله فلا تستعجلوه) /Telah pasti datangnya ketetapan Allah itu, maka janganlah minta disegerakan (QS. Al-Nahl)
(c). (اقترب للناس حسابهم) /Telah dekat datangnya saat itu (QS. Al-Qamar)
(d) (قدافلحل المئمنون) /Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al-Mukminun
(e) (اقتربت الساعة) /telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalam mereka (QS. Al-Anbiya);
(f) (قدسمع الله قول التي تجادلك) /Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpanya (QS. Al-Ma’arij)
(g) (لاقسم بيوم القيامة) /Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah)
(h) (لااقسم بهذا البلاد) /Aku bersumpah dengan kota ini, Makkah (QS. Balad)
(i) (عبس وتولي) /Dia (Muhammad) bermuka Masam dan berpaling (QS. ‘Abasa)
 (j) (لم يكن الذين كفروا من اهل الكتاب) /Dia Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agamanya (QS. Al-Bayyinah)
(k) (الهاكمتكاثر) /Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (QS. Al-Takatsur).
Adapun hikmah dan rahasia adanya pembukaan surat-surat dengan nida’ yaitu untuk memberi perhatian dan peringatan, baik bagi Nabi, umatnya, maupun untuk menjadi pedoman kehidupan ini.
e. Pembukaan dengan sumpa (al-istiftah bi al-qasam).
Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat Al-quran ada tiga macam dan terdapat dalam 15 surat.
1) Sumpah dengan benda-benda angkasa, misalnya (والصفات) (Demi rombongan yang bersaf-saf) dalam QS. Al-Shaffat; (والنجم) (Demi bintang) dalam surat al-Najm; (زالمرسلات) (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa) dalam QS. Al-Nai’at; (والسماء ذات البروج) (Demi lagit yang memiliki gugusan bintang) dalam QS. Al-Buruj; (والسماء و الطارق) (Demi langit dan yang datang pada malam harinya) dalam QS al-Thariq; (والفجروليال عشر) (Demi fajar dan malam yang sepuluh) dalam QS. Al-Fajr; dan (والشمس والضحها) (Demi matahari dan cahanyanya di waktu duha) dalam QS. Al-Syams.
2) Sumpah dengan benda-benda bawah, misalnya (والذاريات ذروا) (Demi angin yang menerbangkan debu dengan sekuat-keuatnya) dalam QS. Al-Dzariyyat; (والطور) (Demi bukit Thur) dalam QS. Al-Thur; (والتين) (Demi buah Tin) dalam QS. Al-Thin; (والعاديت) (Demi kuda perang yang berlari kencang) dalam QS. Al-‘Adiyat.
3) Sumpah dengan waktu, misalnya (واليل) (Demi malam) dalam QS. Al-Layl; (والضحي) (Demi waktu duha) dalam QS. Al-Dhuha; (والعصر) (Demi waktu) dalam QS. Al-Ashr.
Hikmah dari fawatih al suwar dengan sumpah ini, pertama, agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab; berbicara harus benar dan jujur dan berani berbicara untuk menegakkan keadilan; kedua, agar dalam bersumpah manusia harus senantiasa memakai nama-nama Allah bukan selain-Nya; ketiga, digunakannya beberapa benda sebagai sumpah Allah dimaksudkan agar benda-benda itu diperhatikan manusia dalam rangka mendekatkan diri keapda Allah, karena pada dasarnya, benda-benda itu ciptaan Allah.
f. Pembukaan dengan syarat (al-istiftah bi al-syarth).
Syarat yang digunakan dalam pembukaan surat Al-Quran ada dua macam dan digunakan dalam 7 surat, yakni: (1) (اذالشمس كورت) / Apabila matahari digulung dalam QS. Al-Takwir; (2) (اذالشماء انفطرت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Infithar; (3) (اذالشماء انشقت) /Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Insyiqaq, (4) (اذا واقعت الواقعة) /Apabila terjadi hari kiamat , dalam QS. Al-Waqi’ah; (5) (اذاجاءك المنافقون) /Apabila orang-orang munafik datang kepedamu, dalam QS. Al-Munafiqun; (6) (اذا زلزلت الارض زلزالها) /Apabila bumi dogoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dalam QS. Al-Zaljalah; (7) (اذاجاءنصرالله والفتح) /Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dalam QS. Al-Nashr.
g. Pembukaan dengan kata kerja perintah (al-istiftah bi al-amr)
1) Dengan (اقرأ) bacalah, yang hanya terdapat dalam QS. Al-Alaq
2) Dengan (قل) katakanlah, yang terdapat dalam QS al-Jin, QS. Al-Kafirun, QS. Al-Falaq dan QS. Al-Nas.
h. Pembukaan dengan pertanyaan (al-istiftah bi al-istifham)
Bentuk pertanyaan ini ada dua macam yaitu:
1) Pertanyaan, positif yang pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan ini digunakan dalam 4 pendahuluan surat Alquran, yaitu: (هل اتي علي الانسان حين من الدهر) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa dalam QS. Al-Dahr, (عم يتساءلون . عن البإالعجيم) Tentang apakah mereka saling bertanya tentang berita yang besar, dalam QS al-Naba, (هل اتاك حديث الغاشية) Sudah datangkah kepadamu berita tentang hari pembalasan? Dalam QS. Al-Ghasyiyah, (ارايت الذي يكذب بالدين) Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama? Dalam QS. Al-Ma’un.
2) Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat; negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni (الم نشرح لك صدرك) Bukankah kami telah melapangkan dadamu untukmu, dalam QS. Al-Insyirah dan (الم تركيف فعل ربك بأصحب الفيل) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dalam QS. Al-Fil.
i. Pembukaan dengan doa (al-istiftah bi al-du’a)
Pembukan dengan doa ini terdapat dalam tiga surat. Yaitu: (ويل للمطففين) Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang, dalam QS. Al-Muthaffifin, (ويل لكل همزةلمزة) Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela dalam QS. Al-Humazah, (تبتيدا ابي لهب وتب) Binasalah tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa dalam QS. Al-lahab.
j. Pembukaan dengan alasan (al-istiftah bi al-ta’lil)
Pembukan dengan alasan ini hanya terdapat dalam QS. Al-Quraisy (لإيلف قريش) Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.[4]

D. Kedudukan Pembuka Surat Al-Quran
Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat (awail Al-suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-Muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua. Pertama, pertama ulama yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih). Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ini berkata;
ان لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حرزف التهجي
Artinya:
“Sesungguhnya bagi setiap kitab ada sari patinya, dan sari pati Kitab (Al-Quran) ini adalah huruf-huruf ejaannya”.
Abu Bakar juga diriwayatkan pernah berkata:
في كل كتاب سر وسره في القران اوائل السور
Artinya:
“Pada setiap kitab ada rahasia, dan rahasianya dalam Al-Quran adalah permulaan-permulaan suratnya”.
Kedua, pendapat yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian yang dapat dipahami oleh manusia. Karena itu penganut pendapat ini memberikan pengertian dan penafsiran kepada huruf-huruf tersebut.
Dengan keterangan di atas, jelas bahwa pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang terdiri dari tiga belas bentuk. Huruf yang paliang banyak terdapat dalam pembukaan-pembukaan ini adalah huruf Alif (ا) dan lam (ل), kemudian Mim (م), dan seterusnya secara berurutan huruf Ha (ح), Ra (ر), Sin (س) Ta (ط), Sad (ص), Ha (ه), dan Ya’ (ي), ‘Ain (ع) dan Qaf (ق), dan akhirnya Kaf (ك), dan Nun (ن).[5]
Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surat ini dengan tanpa berulang berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan. Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan untuk menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Quran tersusun dari huruf-huruf ejaan yang mereka kenal, sebagiannya datang dalam AlQuran dalam bentuk satu huruf saja dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Pendapat ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Al-Zamakhsari (wafat 538 H) dan Al-Baidhawi (wafat 728 H). pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Taimiyah (wafat 728 H) dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). Mereka menguraikan tantangan Al-Quran di turunkan dalam bahasa Mereka sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu membuat kitab yang menyerupainya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan Al-Quran dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.

Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendapat ulama:
“Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: (الم), berkata Ibn Abbas:” Aku Allah lebih mengetahui”, tentang (المص) berkata Ibn Abbas:” Aku Allah akan memperinci”, dan tentang (الر) berkata Ibn Abbas: “Aku Allah melihat”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Abu Al-Duha).
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah huruf-huruf al-Rahman yang dipisahkan (dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Ikrimah)”.
“Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ Ain, Sad, berkata ia: “Kaf dari Karim (pemurah). Ha dari Hadin (pemberi petunjuk), Ya, dari Hakim (bijaksana), ‘Ain dari ‘Alim (Maha Mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang benar). (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
“Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: (حم، الم) dan (ن) dan seumpamanya adalah nama Allah yang dipotong-potong”, (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
Dari Al-Saddiy, ia berkata: “Pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama Tuhan Jalla Jalaluh yang dipisah-pisah dalam Al-Quran”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: (ص، طسم، الم) dan yang seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”.
(Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan lainya dari jalan Ali Ibn Abi Talhah).
Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi Al-Quran, seperti Al-Furqan dan Al-Zikir. Pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana hanya qasidah sering diawali dengan kata (بل) dan (لا).
Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan (tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan (nida). Akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (ألا) dan (أما) karena kata-kata ini termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa sehingga digunakan alif (ا).
Sebagai peringatan (tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.
Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan (tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandangnya sebagai peringatan (tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan ketenaran perlu diberi peringatan (tanbih) agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.
Di katakana juga bahwa Thaha (طه) dan Yasin (يس) berarti hai laki-laki atau hai Muhammad atau hai manusia. Pendapat lain memandang kedua Thaha (طه) dan Yasin (يس) sebagai nama bagi Nabi Saw.[6]


BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah Pembuka-pembuka surah karena posisinya di awal dalam al-qur’an, dibuka dengan 10 macam pembukaan dan tidak ada satu surahpun yang keluar dari 10 macam tersebut.Para ‘ulama berpendapat bahwa huruf-huruf Fawatihus as-suwar itu secara umum telah sedemikian azalli ,maka banyak ‘ulama yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut
Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. Ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat.
Adapun Urgensi mempelajari Ilmu tersebut secara pokok adalah supaya bertambah keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah swt dan menjadi pedoman kita dalam kehidupan.Kesimpulan dapat dikerucutkan sebagai berikut:
  1. Ilmu Ilmu Fawatihus Shuwar Wakhawatimuha merupakan perkembangan dari Ulumul Qur’an.
  2. Ilmu Fawatihus Shuwar Wakhawatimuha adalah ilmu yang mengkaji pembukaan dan akhiran berupa kata,huruf,atau kalimat dalam Al-Qur’an dengan memperhatikan kaidah tekstual dan kaidah kontekstual.
  3. Bentuk-bentuk Fawatihus Suwar ada 10 macam,berdasarkan kandungan dan maknanya



DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Ahmad Rofi’i. H. Ahmad Syadali, M.A. Ulumul Quran I, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).
Supiana, M, Ag- M. Karman, M. Ag. Ulum Quran, (bandung: Pustaka Islamika: 2002).
Drs. H. Mohammad Zainuddin, Lc., Dipl., M.H. “Metode Memahami Al-Qur’an”. (Bandung: Media Percikan Iman, 2005).
Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Pustaka Setia: Bandung, 2008),

Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy. “ilmu –ilmu Al-Qur’an”. (Semarang: PT. PUSTAKA RIZKI PUTRA, 2002).

https://duniacemoro.wordpress.com/2012/10/05/ulummul-quran-fawatihus-suwar/ ( Minggu, 26 Maret 2017. Diunggah pada jam 05 : 33 Pagi)


[1] Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Pustaka Setia: Bandung, 2008), 129.

[2] Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy. “ilmu –ilmu Al-Qur’an”. (Semarang: PT. PUSTAKA RIZKI PUTRA, 2002.) hlm. 117
[3] Drs. H. Mohammad Zainuddin, Lc., Dipl., M.H. “Metode Memahami Al-Qur’an”. (Bandung: Media Percikan Iman, 2005). Hlm. 122-123.
[4] Supiana, M, Ag- M. Karman, M. Ag. Ulum Quran, (bandung: Pustaka Islamika: 2002), h.172-178.

[5] https://duniacemoro.wordpress.com/2012/10/05/ulummul-quran-fawatihus-suwar/ ( Minggu, 26 Maret 2017. Diunggah pada jam 05 : 33 Pagi)
[6] Drs. H. Ahmad Rofi’i. H. Ahmad Syadali, M.A. Ulumul Quran I, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 186-189.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKNA HADIS "MAN TASYABBAHA BIQAUMIN FAHUWA MINHUM" Kajian no Tekstual

LOGIKA BERFIKIR (MANTIQ) TA'RIF ATAU DEFINISI